Premanisme Tanah Abang Bisa Buyarkan Mimpi Kota Global Jakarta, Pengawasan Jadi Kunci

www.hukumnasional.com.ǁJakarta,15 April 2026-Masih maraknya aksi premanisme di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dinilai mengganggu canangan kota global Jakarta.

Menurut Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, tingkat kriminalitas yang tinggi bisa membuat investor tidak terarik.

Kemanan yang gagal diwujudkan menjadi ongkos di mata para investor.

Menurut Politikus PSI itu, jika hal ini terus dibiarkan, para investor akan enggan masuk ke Jakarta dan mimpi menjadi pusat ekonomi global hanya akan menjadi isapan jempol.

“Bagaimana bisnis di Jakarta ingin sehat dan tumbuh kalau kondisi ini terjadi terus-menerus. Investor luar tidak akan tertarik. Mimpi kota global akan terus menjadi mimpi kalau Pemprov DKI tidak berhasil mengatasi persoalan ini,” tegas Kevin, Senin (13/4/2026).

Ia pun mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar lebih proaktif dan melakukan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Kevin mengingatkan aparat agar tidak hanya bergerak setelah sebuah kasus menjadi viral di media sosial.

“Jangan sampai Pemprov DKI baru bertindak ketika ada kejadian yang viral. Masyarakat sudah dirugikan jauh sebelum kasus itu mencuat.

Kritik yang sama disampaikan aktivis perkotaan, Azas Tigor Nainggolan.

Menurutnya, kenyamanan dan keamanan merupakan syarat mutlak bagi Jakarta jika ingin naik level peringkat kota globalnya.

“Kalau mau jadi kota global kan kenyamanan dan keamanan kotanya itu penting. Salah satu persyaratannya,” kata Tigor kepada TribunJakarta, Selasa (14/4/2026).

Tigor sendiri berharap Jakarta memiliki sistem pengawasan kota yang baik dan terintegrasi.

Ia menyinggung janji Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno saat Pilkada untuk memasang CCTV di setiap RT dan RW.

Menurutnya, keberadaan kamera pengawas sangat penting sehingga aksi kriminalitas bisa terpantau dan pelakunya teridentifikasi untuk kemudian ditindak.

Tigor yang juga analis kebijakan transportasi menyebut sistem perparkiran di Jakarta harus menggunakan sistem elektornik dan diawasi.

“Pengawasan dan penjagaan kotanya secara elektronik, lewat kamera. Penegakan lantasnya elektronik, parkir gak boleh sembarangan, ETLE namanya, electronic traffic law enforcement. Itu traffic, tapi bisa juga untuk keamanan kota,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, aksi premanisme di Tanah Abang masih marak dalam dua bulan terakhir, mulai dari pungli parkir, pemalakan pengendara, hingga pedagang yang diintimidasi dan dirusak dagangannya.

Sejumlah pelaku telah ditangkap polisi, termasuk juru parkir liar yang positif narkoba dan preman yang memalak sopir hingga pedagang kecil.

Gubernur Pramono sendiri sudah angkat bicara, mengecam keras dan memerintahkan penindakan tegas.

Gak Mungkin Adem Ayem

Sebelumnya, Gubernur Pramono sempat bicara tentang Jakarta yang dinobatkan sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara versi Global Residence Index 2026

“Jadi Jakarta ini yang menempatkan kota nomor dua itu bukan Gubernur. Tetapi hasil survei dunia. Maka dengan demikian memang selama ini Jakarta selalu biasanya rangkainya antara 5, 6, 7. Sekarang nomor dua,” kata Pramono, Sabtu (11/4/2026).

Terkait kasus pemalakan pedagang bakso di Tanah Abang, Pramono setelah kejadian langsung berkoordinasi Satpol PP untuk mengambil tindakan.

“Pedagang bakso yang dipalak. Dan saya pada saat itu juga langsung menelpon ke Kepala Dinas Satpol PP untuk mengambil tindakan. Dan apa yang memalak yang memecahkan mangkok langsung ditangkap,” ucap Pramono.

Menurut Pramono, pelaku pemalakan yang langsung ditangkap dan ditindak petugas merupakan respons cepat.

“Dan ditahan (pelakunya). Itu menunjukkan bahwa kita bereaksi cepat terhadap hal itu,” ujar dia.

Menurut dia, Jakarta dengan 11 juta penduduk ditambah mobilitas warga aglomerasi tentu memiliki masalah sosial yang pelik.

“Kota dengan penduduk 11 juta lebih, Kalau dengan aglomerasinya hampir 42 juta. Menurut PBB, tentunya gak mungkin semuanya adem-ayem gak ada apa-apa,” tuturnya.

 

 

Exit mobile version