Bikin Macet Parah, Ternyata Ini Penyebab Jalan Kebon Sirih Terus Diperbaiki

www.hukumnasional.com.ǁJakarta,22 Juli 2026-Kemacetan panjang yang terjadi di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, akibat penutupan lajur tengah ternyata dipicu masalah yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan jalan.

Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengungkapkan, ruas Jalan Kebon Sirih tidak lagi diperbaiki menggunakan aspal karena kondisi tanah di bawahnya labil.

Akibatnya, permukaan aspal yang baru diperbaiki selalu kembali rusak dalam waktu singkat.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan, pihaknya menemukan penyebab kerusakan setelah melakukan evaluasi menggunakan teknologi geo-radar.

“Jadi Kebon Sirih itu jalannya setelah kita aspal beberapa bulan kemudian selalu bleeding aspalnya, selalu rusak, rusak, rusak,” ucapnya, Rabu (22/7/2026).

Menurut dia, hasil pemeriksaan menunjukkan persoalan utama bukan berada pada kualitas aspal, melainkan struktur tanah di bawah jalan.

“Setelah kita evaluasi, setelah kita pakai geo-radar, tanahnya ini labil. Nah, kalau kita aspal lagi akan terjadi seperti itu. Makanya kami lakukan dengan pembetonan,” ujarnya.

Lajur Tengah Ditutup, Pekerjaan Ditarget Rampung September

Saat ini, perbaikan dilakukan dengan metode pembetonan sehingga lajur tengah Jalan Kebon Sirih harus ditutup sementara.

Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas di kawasan tersebut kerap mengalami kepadatan, terutama pada jam sibuk.

Heru mengatakan, proyek perbaikan dilakukan sepanjang sekitar 345 meter dan ditargetkan selesai sesuai kontrak pada September 2026.

“Kalau secara kontrak September ya, yang Kebon Sirih,” tuturnya.

Ia menjelaskan, pekerjaan dilakukan secara bertahap agar lalu lintas tetap dapat berjalan.

“Sepanjang 345 meter aja. Kan sekarang masih yang tengah nih kita kerjain. Yang tengah selesai, nanti lari ke pinggir,” kata Heru.

Jalan Bertanah Labil Berpotensi Dibeton

Heru menambahkan, metode pembetonan tidak menutup kemungkinan diterapkan di ruas jalan lain apabila ditemukan persoalan serupa.

Menurutnya, langkah tersebut dipilih agar kerusakan tidak terus berulang dan perbaikan menjadi lebih efektif dalam jangka panjang.

“Kalau memang ada jalan seperti itu ya akan kita tangani,” ujar Heru.

Ia menyebut, sejauh ini Jalan Kebon Sirih menjadi lokasi yang paling sering mengalami kerusakan berulang akibat kondisi tanah yang labil.

“Kebon Sirih yang selalu melakukan perbaikan terus,” katanya.