www.hukumnasional.com.ǁJakarta,5 September 2026-Kebakaran melanda Apartemen Pavilion, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2026).
Peristiwa tersebut membuat petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta harus melakukan evakuasi penghuni secara bertahap.
Proses evakuasi bahkan berlangsung lebih dari lima jam karena petugas harus menurunkan penghuni dari gedung bertingkat menggunakan armada Bronto Skylift.
Hingga pukul 17.00 WIB, sebanyak 33 penghuni berhasil dievakuasi.
Dari jumlah tersebut, 31 orang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dan dua lainnya merupakan Warga Negara Asing (WNA).
Berikut sederet fakta terkait kebakaran Apartemen Pavilion Jakarta Pusat:
- Kebakaran Dilaporkan Pukul 11.23 WIB
Informasi mengenai kebakaran diterima petugas Gulkarmat DKI Jakarta pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 11.23 WIB.
Petugas kemudian dikerahkan menuju Apartemen Pavilion untuk melakukan penanganan sekaligus proses evakuasi penghuni.
Namun, proses evakuasi tidak dapat dilakukan sekaligus karena kondisi gedung dan keterbatasan armada penyelamat.
- Evakuasi Berlangsung Lebih dari 5 Jam
Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara menjelaskan, proses evakuasi memakan waktu cukup lama karena kapasitas keranjang penyelamat pada unit Bronto Skylift terbatas.
Sebanyak tiga unit Bronto Skylift dikerahkan ke lokasi.
Dua unit dioperasikan untuk proses evakuasi, masing-masing dengan kemampuan mencapai ketinggian 55 meter dan 104 meter. Satu unit lainnya disiagakan sebagai antisipasi.
Namun, setiap keranjang hanya dapat membawa maksimal lima orang, termasuk satu operator.
“Unit kami ini butuh waktu untuk evakuasi, sementara keranjang kami ini kapasitasnya hanya untuk lima orang. Satu operator, jadi kami angkat paling maksimal 4 (penghuni) dari atas ke bawah,” kata Bayu.
Kondisi tersebut membuat penghuni harus diturunkan secara bergantian.
- Ada Penghuni yang Takut Dievakuasi dari Ketinggian
Selain kendala teknis, kondisi psikologis penghuni turut memengaruhi proses evakuasi.
Bayu mengatakan, beberapa penghuni mengalami ketakutan atau fobia ketika harus diturunkan menggunakan keranjang dari lantai atas.
“Proses evakuasi itu karena mungkin kephobiaan, karena turun dari lantai atas juga ke bawah kan butuh effort,” jelasnya.
Petugas pun harus melakukan proses penyelamatan secara hati-hati agar seluruh penghuni dapat dievakuasi dengan aman.
- Tiga Bayi dan Dua Lansia Ikut Dievakuasi
Dari 33 penghuni yang berhasil dievakuasi, terdapat kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus.
Bayu menyebut ada tiga bayi dan dua lansia yang ikut dievakuasi menggunakan Bronto Skylift.
Dua lansia tersebut bahkan harus dievakuasi dari lantai 23.
“Ada dua lansia juga yang betul-betul kami perhatikan, kami evakuasi dari lantai 23,” tutur Bayu.
- Tidak Ada Korban Jiwa
Bayu memastikan tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut.
Para penghuni yang berhasil dievakuasi juga tidak mengalami luka serius.
Petugas turut memastikan kondisi kesehatan para penghuni setelah mereka keluar dari gedung.
“Tapi alhamdulillah tadi begitu keluar dari lokasi ini tidak ada yang pingsan, tidak ada yang mengeluh, karena untuk memastikan kesehatannya baik,” ujarnya.
- Dugaan Awal Berkaitan dengan Kelistrikan
Gulkarmat DKI Jakarta mengungkap dugaan awal penyebab kebakaran.
Bayu mengatakan, kebakaran diduga berkaitan dengan fenomena kelistrikan.
“Kemungkinan besar terkait dengan fenomena kelistrikan,” kata Bayu saat ditemui di lokasi, Jumat (4/9/2026) petang.
Meski demikian, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan akhir.
Penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian.
“Ini kan masih dalam proses penyelidikan teman-teman dari pihak kepolisian,” ujarnya.
Terkait informasi mengenai adanya pemeliharaan atau maintenance listrik sebelum kebakaran, Bayu mengatakan pihaknya belum dapat memastikan hal tersebut.
Saat petugas tiba di lokasi, api sudah menjalar dan asap telah memenuhi area gedung.
- Api Merambat melalui Shaft Kabel
Bayu menjelaskan, api tidak menyebar ke bagian luar gedung.
Kobaran api justru terkonsentrasi di dalam shaft kabel yang memanjang secara vertikal dari lantai bawah hingga lantai atas.
Kondisi tersebut membuat api dan asap dapat merambat dengan cepat.
“Apinya hanya di shaft sebenarnya, enggak terlalu panjang. Tapi shaft kabel itu kan seperti cerobong ya, jadi dari lantai bawah ke atas itu terhubung (connect),” jelas Bayu.
Berdasarkan pemeriksaan awal, titik api diperkirakan berada di lantai menengah gedung.
“Kemungkinan titik apinya antara lantai 4 atau lantai 5, kira-kira begitu,” ungkapnya.
- Petugas Sisir Lantai demi Lantai
Proses penanganan tidak hanya dilakukan untuk memadamkan api.
Petugas juga harus menyisir lantai demi lantai untuk memastikan tidak ada penghuni yang masih terjebak di dalam gedung.
Selain itu, petugas melakukan upaya untuk mengeluarkan asap yang membubung hingga lantai atas.
“Sifat asap itu kan dari bawah ke atas. Jadi kami meng-evakuasi lantai per lantai, dan sampai saat ini proses tersebut masih terus kami lakukan,” tutur Bayu.
