Sopir Truk Stuck 3 Hari di Cilincing Gegara Depo Penuh, Upah Ritase Buat Anak Istri Jadi Terpakai

www.hukumnasional.com.ǁJakarta,8 Juli 2026-Antrean panjang truk menuju Depo Kontainer PT Global Terminal Marunda (GTM) di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, membuat ratusan sopir truk harus bertahan hingga tiga hari di jalan tanpa kepastian kapan bisa membongkar peti kemas kosong.

Akibat kondisi tersebut, para sopir mengaku kehilangan pendapatan karena tidak dapat mengambil ritase berikutnya.

Bahkan, uang yang seharusnya dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga terpaksa digunakan untuk biaya makan dan operasional selama menunggu.

Keluhan itu menjadi salah satu alasan para sopir menggelar aksi unjuk rasa di depan Depo GTM pada Rabu (8/7/2026).

Mereka menuntut pengelola segera mengurai antrean serta memberikan kepastian proses bongkar kontainer.

Salah seorang sopir, Yusuf mengatakan, dirinya sudah tertahan selama dua hari sejak berangkat dari Cikande, Kabupaten Serang.

Hingga Rabu siang, kontainer yang dibawanya belum juga bisa dibongkar.

“Dampaknya kita kan enggak dapat narik lagi, enggak dapat ritase lagi. Yang ada uang habis buat makan. Saya saja sampai belum makan,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, kondisi tersebut sangat memberatkan para sopir karena penghasilan mereka bergantung pada jumlah ritase yang bisa diselesaikan setiap hari.

Dalam kondisi normal, satu ritase dapat diselesaikan dalam waktu singkat sehingga sopir bisa kembali mengambil muatan berikutnya.

“Kalau normal paling antre survei terus bongkar sekitar 20 menit. Ini mah berhari-hari,” ujarnya.

Yusuf berharap pengelola depo segera memberikan solusi agar proses bongkar muat kembali lancar.

Ia juga meminta jika kapasitas depo sudah penuh, peti kemas dialihkan ke lapangan atau depo lain sehingga sopir tidak perlu menunggu berhari-hari.

“Harapannya depo ini lancar lagi, jangan kayak begini terus. Kalau memang penuh ya dialihkan ke lapangan lain,” ucapnya.

Keluhan serupa disampaikan sopir truk lainnya, Eben Manulang.

Ia mengatakan sebagian sopir bahkan sudah terjebak antrean hingga tiga hari karena kapasitas depo tidak lagi mampu menampung peti kemas yang masuk.

“Kadang sudah sampai tiga hari, dua hari kita ngantre di sini, enggak dapat solusi dari pihak GTM,” kata Eben.

Eben sendiri mengaku hampir satu hari satu malam berada di kawasan Marunda setelah berangkat dari Cakung pada Selasa (7/7/2026) sore.

Selama menunggu, truk yang dikendarainya nyaris tidak bergerak karena antrean dinilai tidak tertata.

“Kita muter-muter terus cari antrean enggak dapat-dapat. Antreannya enggak terorganisir,” ujarnya.

Menurut Eben, penumpukan terjadi karena jumlah peti kemas yang masuk jauh lebih besar dibandingkan kapasitas pengeluaran depo.

Bahkan, depo cadangan yang biasa digunakan juga disebut sudah penuh.

“Pengeluaran peti kemas enggak sebanding dengan pemasukan. Jadi overload. Depo cadangannya juga sudah penuh,” katanya.

Para sopir berharap pengelola segera menambah kapasitas penampungan maupun memperbaiki sistem operasional agar antrean panjang tidak terus berulang.

Selain membuat sopir kehilangan penghasilan, antrean truk yang mengular di kawasan Cilincing dan Marunda juga berdampak terhadap arus lalu lintas di sekitar depo.

Para sopir memperkirakan jumlah kendaraan yang mengantre mencapai sekitar 1.000 unit.

Mereka berharap persoalan tersebut segera diselesaikan agar ritase kembali normal dan penghasilan yang menjadi sumber nafkah anak istri tidak lagi terkuras akibat harus berhari-hari menunggu di jalan.