www.hukumnasional.com.ǁJakarta,26 September 2026-Jenazah Guruh Soekarnoputra bakal dimakamkan di area Taman Makam Tokoh Bangsa yang terletak di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (26/9/2026).
Berdasarkan informasi dari Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno atau Sandiaga Uno, jenazah Guruh akan dimakamkan seusai bakda Zuhur.
“Rencananya nanti setelah zuhur akan dimakamkan di Karet Bivak, sesuai pesan beliau,” kata Sandiaga di rumah duka dikutip dari Warta Kota, Sabtu (26/9/2026).
Sementara itu, melansir pantauan Tribunnews.com di lokasi sekitar pukul 11.47 WIB, tampak beberapa pekerja mulai mempersiapkan tenda di sekitar liang lahat.
Liang lahat yang akan menjadi tempat peristirahatan Guruh Soekarnoputra sudah tampak rapih.
Di lokasi tampak dua buah tenda berwarna putih yang sudah didirikan oleh pekerja di area pemakaman.
Selain itu, beberapa peziarah dan sejumlah orang dari Satgas Cakrabirawa juga hadir di area pemakaman Guruh.
Dimakamkan di sisi Ibunda
Diketahui, putra Presiden Pertama RI Soekarno itu meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.
Guruh Soekarnoputra wafat dalam usia 73 tahun.
Jenazah Guruh Soekarnoputra, akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Sabtu (26/9/2026).
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan, Guruh akan dikebumikan di tempat peristirahatan terakhirnya, tepat di samping makam sang ibunda, Fatmawati.
“Hari ini jenazah Mas Guruh sudah berada di kediaman beliau dan nanti rencana akan dimakamkan berada di sebelah Ibu Fatmawati,” kata Hasto saat ditemui di rumah duka dikutip dari Tribunnews.com.
Sosok Guruh Soekarnoputra
Guruh Soekarnoputra lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953.
Sejak kecil, ketertarikannya terhadap kesenian sudah terlihat.
Arsip Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI mencatat, Guruh mulai belajar tari Jawa, Sunda dan Bali sejak berusia sekitar lima tahun.
Ia juga bermain piano, membentuk band anak-anak dan tampil di atas panggung.
Ketika remaja, Guruh bahkan membentuk kelompok musik The Beat G pada 1965.
Pilihan terhadap dunia seni kemudian menjadi salah satu ciri paling kuat dalam perjalanan hidupnya.
Memasuki dekade 1970-an, Guruh semakin aktif mengembangkan gagasan kesenian yang memadukan unsur tradisi Indonesia dengan musik modern.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan musiknya adalah kolaborasi dengan kelompok musik Gipsy.
Kolaborasi tersebut melahirkan album Guruh Gipsy, sebuah proyek musik eksperimental yang memadukan musik modern dengan unsur musik tradisional, termasuk gamelan Bali.
Arsip mengenai album tersebut mencatat keterlibatan Guruh bersama Chrisye, Keenan Nasution, Oding Nasution, Roni Harahap dan Abadi Soesman.
Karya tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu proyek penting dalam perkembangan musik Indonesia karena mempertemukan warna rock progresif dengan unsur musik tradisional Nusantara.
Salah satu karya yang paling dikenal dari proyek tersebut adalah Indonesia Maharddhika.
Lagu itu ditulis Guruh bersama Roni Harahap dan menjadi bagian dari album Guruh Gipsy. Dokumentasi mengenai karya tersebut mencatat Guruh memainkan piano dan gendér dalam proses rekaman.
Guruh kemudian memperluas eksplorasi seninya melalui Swara Maharddhika.
ANRI mencatat Guruh mendirikan Swara Maharddhika pada 27 Maret 1977, yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1987.
Kelompok tersebut menjadi wadah bagi pengembangan seni tari dan musik yang kemudian tampil dalam berbagai pertunjukan berskala besar.
Pada 1979, Guruh menggelar Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I.
Setahun kemudian, ia melanjutkannya dengan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra II: Untukmu Indonesiaku.
Karya tersebut kemudian juga diangkat ke layar dalam film semi-dokumenter Untukmu Indonesiaku. Film yang dirilis pada 1981 itu menampilkan Guruh bersama Swara Maharddhika serta sejumlah nama besar dunia musik dan hiburan Indonesia.
Perjalanan tersebut berlanjut melalui pergelaran berikutnya, termasuk Cinta Indonesia dan Gilang Indonesia Gemilang.
Dokumentasi mengenai karya-karyanya menunjukkan bahwa musik, tari, koreografi dan pertunjukan panggung menjadi bagian yang saling terhubung dalam konsep kesenian Guruh.
Menempuh Pendidikan di Belanda
Di tengah kiprahnya di dunia seni, Guruh juga sempat menempuh pendidikan di luar negeri.
Ia pernah belajar arkeologi di Universiteit van Amsterdam, Belanda.
Sejumlah arsip biografi mencatat Guruh menjalani pendidikan tersebut pada awal dekade 1970-an sebelum kemudian lebih banyak mencurahkan perhatian pada dunia seni.
Pilihan tersebut menarik karena minat Guruh terhadap seni dan kebudayaan kemudian terus terlihat dalam karya-karyanya.
Eksplorasinya tidak hanya berhenti pada musik, tetapi juga menyentuh tari, koreografi dan pertunjukan yang mengangkat unsur budaya Indonesia.
Panggung Seni menuju Senayan
Guruh kemudian memasuki dunia politik.
Namanya tercatat sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada periode 1992-1997.
Setelah dinamika politik PDI pada akhir 1990-an, Guruh bergabung dengan PDI Perjuangan dan kembali menjadi anggota DPR sejak 1999.
Data pemilu mencatat Guruh kembali terpilih sebagai anggota DPR pada Pemilu 2004 dari daerah pemilihan Jawa Timur VI dengan perolehan 168.763 suara.
Kariernya di parlemen kemudian berlanjut dalam beberapa periode berikutnya.
Dokumentasi daftar anggota DPR mencatat Guruh sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan untuk sejumlah periode setelah Reformasi, termasuk periode 2004-2009 dan periode-periode berikutnya.
Pada periode 2019-2024, Guruh juga tercatat sebagai anggota Komisi X DPR RI, komisi yang membidangi antara lain pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, kepemudaan dan olahraga. Namanya tercantum dalam jajaran anggota Komisi X dari Fraksi PDI Perjuangan.
Dengan rentang masa jabatan 1992-1997 dan 1999-2024, Guruh menghabiskan sekitar tiga dekade sebagai anggota parlemen.
Sempat maju sebagai calon Ketua Umum PDIP
Kiprah Guruh di politik tidak sebatas menjadi anggota DPR.
Pada 2010, Guruh pernah menyatakan kesediaannya maju sebagai calon Ketua Umum PDI Perjuangan.
Dalam pernyataannya ketika itu, Guruh menyebut pencalonannya dilatarbelakangi keprihatinan terhadap perolehan suara PDIP yang menurun setelah Pemilu 1999.
Guruh mengatakan dirinya siap maju apabila pencalonan tersebut menjadi aspirasi kader dan pendukung partai.
Langkah tersebut memperlihatkan sisi lain Guruh setelah puluhan tahun dikenal terutama melalui karya seni.
Ia tidak hanya membawa nama besar keluarga Soekarno ke panggung politik, tetapi juga membangun kariernya sendiri melalui aktivitas kepartaian dan parlemen.
Guruh dan Warisan Seni Indonesia
Meski kemudian aktif sebagai politikus, dunia seni tetap menjadi bagian penting dari identitas Guruh.
Jejaknya terlihat dari karya musik, tari, koreografi hingga pertunjukan kolosal yang ia bangun sejak dekade 1970-an.
Kolaborasinya bersama Gipsy melahirkan Guruh Gipsy, sementara Swara Maharddhika menjadi wadah pertunjukan yang mempertemukan musik dan tari dengan gagasan tentang kebudayaan Indonesia.
Karena itu, perjalanan Guruh Soekarnoputra memiliki dua jalur yang berjalan beriringan: panggung seni dan panggung politik.
Ia lahir dari keluarga yang sangat lekat dengan sejarah politik Indonesia, tetapi memilih membangun sebagian besar masa mudanya melalui kesenian sebelum kemudian memasuki parlemen.
Kini perjalanan tersebut berakhir setelah Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun.
Keluarga Besar Soekarno dalam keterangan dukanya memohon doa serta meminta masyarakat membukakan pintu maaf atas kesalahan dan kekhilafan almarhum.
