www.hukumnasional.com.ǁJakarta,4 Oktober 2026-Inflasi DKI Jakarta pada September 2026 melambat menjadi 0,13 persen secara bulanan, tetapi harga sejumlah kebutuhan pangan masih menjadi sumber tekanan.
Angka tersebut turun dibandingkan inflasi Agustus 2026 yang mencapai 0,15 persen.
Inflasi Jakarta juga lebih rendah dibandingkan angka nasional yang berada di level 0,30 persen.
Secara tahunan, inflasi Jakarta tercatat sebesar 2,71 persen, sekaligus menjadi yang terendah di Pulau Jawa dan berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,28 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi September.
Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,46 persen dengan andil 0,08 persen.
Harga Ayam, Cabai hingga Beras Jadi Pemicu
Iwan mengatakan, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan masih menjadi perhatian.
“Tekanan inflasi terutama dipicu kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Kenaikan harga daging ayam dipengaruhi meningkatnya harga pakan ternak dan day old chick (DOC),” ucapnya dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (4/10/2026).
Kenaikan harga cabai rawit juga dipengaruhi kondisi cuaca.
Kemarau berkepanjangan membuat produksi cabai rawit di sejumlah daerah pemasok seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta menurun.
Berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi tersebut turut mendorong kenaikan harga cabai dan beras.
Meski demikian, pasokan bawang merah dan tomat yang meningkat selama masa panen ikut menahan tekanan inflasi dari kelompok pangan.
Masker Ikut Dorong Inflasi
Tekanan harga tidak hanya datang dari kelompok pangan.
Kelompok kesehatan mencatat inflasi 0,63 persen pada September 2026, meningkat dari 0,28 persen pada bulan sebelumnya.
Salah satu pemicunya adalah meningkatnya permintaan masker setelah masyarakat khawatir terhadap abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Kenaikan ini dipicu meningkatnya permintaan masker akibat kekhawatiran masyarakat terhadap abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Komoditas masker memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen,” kata Iwan.
Tiket Pesawat Justru Turun
Sementara itu, kelompok transportasi justru mengalami deflasi 0,10 persen.
Deflasi tersebut melanjutkan tren pada Agustus yang mencapai 0,45 persen.
Penurunan tarif angkutan udara di tengah rendahnya permintaan perjalanan menjadi salah satu faktor utama.
Kondisi tersebut terjadi meski fuel surcharge tiket pesawat domestik meningkat dari 30 persen menjadi 40 persen dari Tarif Batas Atas (TBA).
“Di sisi lain, kenaikan harga BBM nonsubsidi pada awal September turut memberikan tekanan inflasi,” imbuhnya.
TPID Siapkan Strategi Tekan Harga Pangan
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Sejumlah langkah dilakukan, di antaranya:
Program pangan bersubsidi dan pasar murah melalui BUMD pangan.
Penyaluran beras SPHP oleh Perum Bulog Kanwil Jakarta-Banten.
Pengembangan urban farming.
Peningkatan kapasitas pelaku usaha pangan.
Optimalisasi distribusi pangan melalui layanan truk keliling.
Penguatan koordinasi dan kapasitas enumerator Informasi Pangan Jakarta (IPJ).
Ke depan, BI bersama TPID DKI juga akan memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi berbagai risiko yang dapat memengaruhi harga pangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga fenomena El Nino.
“Melalui berbagai upaya tersebut, inflasi Jakarta diharapkan tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen pada 2026,” tuturnya.






