www.hukumnasional.com.ǁJakarta,12 Maret 2026-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta menegaskan komitme untuk terus mendorong pemerintah daerah memperkuat upaya penanggulangan sampah di ibukota.
DPRD menilai, persoalan sampah menjadi tantangan besar. Seiring tingginya aktivitas dan pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan.
Melalui berbagai rapat dan pembahasan kebijakan, DPRD mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengelolaan sampah secara terpadu.
Mulai dari pengurangan sampah di sumber, penguatan program daur ulang, hingga optimalisasi fasilitas pengolahan sampah.
Selain itu, DPRD juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui kebiasaan memilah sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Dengan sinergi antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat, pengelolaan sampah di Jakarta dapat berjalan lebih efektif.
Dengan demikian, lingkungan kota menjadi lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi seluruh warga.
Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin mengatakan, Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta di Rorotan bagian dari solusi permanen untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantargebang.
“Produksi sampah Jakarta mencapai sekitar 8.700 ton per hari. Perlu solusi permanen,” ujar Khoirudin usai meninjau RDF Plant Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara, Rabu (11/3).
Teknologi RDF dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap Bantargebang. “Salah satu solusinya adalah RDF. Sehingga tidak semua sampah dibuang ke Bantargebang,” kata dia.
DPRD juga perlu memastikan fasilitas yang dibangun dengan anggaran besar dapat berfungsi optimal. RDF Rorotan harus beroperasi secara maksimal. Namun tetap memperhatikan kesepakatan sosial dengan warga sekitar.
“Saya datang untuk memastikan anggaran triliunan yang telah disetujui benar-benar memberi manfaat,” ungkap Khoirudin.
RDF Rorotan dirancang memiliki kapasitas input hingga 2.500 ton sampah per hari. Perkiraan, mampu mengurangi sekitar 30 persen volume sampah ke Bantargebang.
Khoirudin juga menilai, perlu pembangunan fasilitas pengolahan seperti RDF di beberapa titik. Dengan begitu, Jakarta punya sistem pengelolaan sampah yang lebih aman dan berkelanjutan.
“Kalau fasilitas seperti ini ada di beberapa lokasi, tentu bisa menjadi solusi permanen,” tutur dia.
Sebelum meninjau RDF Rorotan, Khoirudin juga berdialog dengan warga RW 08 Rorotan. Mendengar langsung keluhan masyarakat. Terkait aroma tak sedap yang sempat muncul saat proses commissioning dan pengoperasian awal fasilitas tersebut.
Menurut Khoirudin, hubungan sosial antara pengelola RDF dan masyarakat sekitar sangat penting. Warga perlu memahami lewat penjelasan teknis. Butuh pelayanan sosial dan komunikasi yang baik.
“Kalau muncul masalah sosial, yang harus dilihat adalah seberapa kuat layanan RDF kepada masyarakat,” kata Khoirudin.
Dalam kesempatan itu, Ketua RW 08 Rorotan Ahmad Fauzi mengatakan, warga pada dasarnya mendukung operasional RDF karena memahami persoalan sampah yang dihadapi Jakarta.
“Terkait pembangunan RDF, warga RW 08 mendukung karena sampah memang menjadi problem di Jakarta,” ucap dia.
Fauzi berharap, wilayah yang paling dekat dengan fasilitas pengolahan sampah itu juga merasakan manfaat langsung. Terutama dalam penanganan sampah di lingkungan sekitar.
“Karena kami paling dekat dengan RDF, sampah di wilayah kami harus bersih dan tuntas ditangani,” tambah dia.
Sementara itu, Perwakilan RDF Jakarta Muhammad Andika Firmansyah menjelaskan, pengelola terus membenahi dua tantangan Utama. Yaitu, pengangkutan sampah dan pengendalian bau.
Ia menyebut, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berkomitmen menggunakan truk kompaktor tertutup. Mencegah ceceran sampah dan tetesan air lindi selama proses distribusi.
Selain itu, melengkapi RDF Rorotan dengan alat pengendali emisi dan bau lewat delapan stasiun pemantau kualitas Udara. Masyarakat bisa mengaksesnya.
Langkah tersebut dapat meminimalkan dampak operasional fasilitas terhadap permukiman warga di sekitarnya.
Kebutuhan Operasional Pengelolaan Sampah
Andika mengatakan, ada sejumlah kebutuhan penting untuk mendukung operasional RDF Rorotan. Terutama terkait pengangkutan sampah.
“Harapan kami ada penambahan armada truk kompaktor agar dampak lingkungan saat pengangkutan bisa diminimalkan,” ungkap dia.
Selain armada pengangkut, pengelola RDF juga berharap ada dukungan pembangunan infrastruktur jalan menuju lokasi fasilitas tersebut.
“Kami berharap ada dukungan anggaran untuk penyelesaian jalan arteri sejajar Jalan Inspeksi BKT agar akses ke RDF Rorotan lebih lancar,” jelas dia.
Menanggapi hal itu, Khoirudin mengatakan, DPRD DKI kini memasuki tahap penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Tahap tersebut, kata Khoirudin, menjadi momentum tepat untuk menyerap berbagai kebutuhan prioritas pembangunan Jakarta.
Khoirudin menambahkan, berbagai kebutuhan operator di lapangan akan menjadi bahan pertimbangan DPRD dalam menentukan prioritas anggaran daerah.
“Agar persoalan sampah di Jakarta bisa diselesaikan dari hulu sampai hilir,” pungkas dia.












