BPBD Ungkap 5 Fakta Modifikasi Cuaca Jakarta: Efektivitas Tekan Hujan hingga Alasan Besarnya Biaya

www.hukumnasional.com.ǁJakarta,3 Februari 2026-Memasuki awal tahun 2026, Jakarta kembali dihantui cuaca ekstrem. Hujan lebat yang kerap mengguyur ibu kota, sering kali membuat warga was-was akan datangnya banjir maupun genangan lokal.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus menggenjot Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Modifikasi cuaca ramai mendapat tanggapan warga, dari mulai kritik akan biaya yang mahal, hingga efektivitasnya.

Berikut adalah 5 fakta penting mengenai OMC yang diungkap oleh Ketua Subkelompok Urusan Pengendalian dan Operasi BPBD DKI Jakarta, Muhamad Thoufiq Hidayatuloh, saat menjadi narasumber di podcast Ruang Jakarta, channel Youtube (‎⁨@RuangJakartaPodcast), dikutip Selasa (3/2/2026):

Cara Kerja

Banyak yang mengira modifikasi cuaca adalah cara menghapus hujan. Faktanya, OMC bertujuan untuk memprematurkan hujan.

Dengan menyemai garam (NaCl) di atas awan yang bergerak dari Selat Sunda atau Laut Jawa, massa awan diperberat sehingga air jatuh di wilayah perairan, bukan di pemukiman padat penduduk.

“Hujan yang harusnya sejam lagi nyampai Jakarta, kita semai dulu garamnya di laut biar dia hujan duluan di laut,” ujar Thoufiq.

Mengapa Jakarta Sangat Butuh OMC?

Secara geografis, Jakarta berada dalam posisi sulit. Sekitar 40 persen  wilayahnya berada di bawah permukaan laut dan dilewati 13 sungai besar.

Kapasitas sungai dan drainase Jakarta hanya mampu menampung curah hujan hingga 150 mm per hari.

OMC menjadi benteng pertama untuk mengurangi volume air yang masuk.

“Ketika dihujani sampai 200 mm per hari, itu sudah over capacity. Kekuatan pompa seekstrem apa pun akan kalah dengan waktu dan volume air,” jelas Thoufiq.

Efektivitas

Data BPBD mencatat efektivitas yang cukup signifikan dari operasi modifikasi cuaca.

Sejak dimulai pada 16 Januari hingga akhir Januari 2026, intervensi teknologi ini berhasil menurunkan intensitas curah hujan yang seharusnya jatuh di daratan Jakarta sekitar 36 persen.

Penurunan ini sangat krusial untuk mencegah sistem drainase kota mengalami kelumpuhan total.

Alasan Biaya Fantastis: Bukan Karena Harga Garam

Sorotan mengenai biaya operasi yang mencapai ratusan juta rupiah sekali terbang turut dijawab oleh BPBD.

Thoufiq menjelaskan bahwa harga garam sendiri relatif murah. Komponen biaya yang paling menguras anggaran adalah sewa pesawat, bandaranya, gudang operasional hingga tim ahli.

Semua rincian ini diklaim transparan dan dapat dipantau melalui akun e-budgeting Pemprov DKI.

“Pertama garamnya, harga garam masih terjangkau. Yang bikin mahal adalah pesawatnya, kemudian sewa bandara dalam satu hari, gudang penyimpanan, dan operasional lainnya. Semuanya transparan, masyarakat bisa melihat di akun e-budgeting kami. Sekali terbang kapasitasnya 800 kilo garam yang dibawa, dan sehari bisa tiga sampai empat kali penerbangan,” paparnya.

Bukan Solusi Tunggal

BPBD sadar bahwa modifikasi cuaca bukan solusi utama untuk banjir Jakarta. Langkah ini dilakukan beriringan dengan normalisasi sungai, pembangunan tanggul (seatpile), dan pembuatan embung.

“Kita berpacu dengan waktu. Apakah kita hanya mau menunggu tanggul selesai sementara puncak musim hujan sudah di depan mata? OMC adalah upaya jangka pendek agar warga tidak terdampak lebih parah,” pungkasnya.

Thoufiq juga mengimbau segera hubungi layanan darurat Jakarta Siaga 112 (bebas pulsa) jika wilayah Anda mulai tergenang, atau pantau titik banjir secara real-time melalui fitur peta di aplikasi JAKI.