www.hukumnasional.com.ǁJakarta,17 Desember 2025-Jakarta jadi salah satu provinsi dengan angka literasi tertinggi di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat melek huruf warga berusia di atas 15 tahun di Jakarta pada tahun 2025 ini mencapai 99,71 persen.
Meski demikian, tingkat kegemaran membaca hanya berkisar di angka 72,19 persen.
Angka ini masih berada di bawah beberapa provinsi lain, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki tingkat gemar membaca hingga 79,99 persen.
Data Tinggi Bukan Jaminan
Angka persentase melek huruf yang hampir mencapai 100 persen mencerminkan bahwa hampir seluruh warga Jakarta berusia 15 tahun ke atas dapat membaca dan menulis dengan baik, jauh lebih tinggi dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
Tapi ketika indikator diperdalam ke tingkat kegemaran membaca, posisi Jakarta justru berada di peringkat 10.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menggairahkan minat baca agar kualitas masyarakat semakin baik.
“Memang tingkat literasi di Jakarta tinggi, tapi harus ada upaya-upaya untuk menggairahkan lagi,” ucap Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Hikmat Kurnia di acara Jakarta Literaria 2025 di Pos Bloc, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025) petang.
Literasi Tak Sekedar Membaca
Hikmat menekankan bahwa literasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas individu di tengah perubahan zaman.
“Literasi itu bertujuan untuk memperbaiki kualitas diri. Karena untuk menghasilkan kualitas masyarakat yang baik, bangsa yang baik itu harus dimulai dari individu yang literer,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa literasi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca semata, tetapi kemampuan memahami fenomena sosial yang berkembang.
“Ketika zaman berubah, kita butuh literasi, butuh pemahaman terhadap kondisi yang ada. Misalnya sekarang fenomena media sosial, itu kan orang melihat algoritma sesuai minatnya masing-masing,” kata Hikmat.
Menurutnya, literasi menjadi kunci agar masyarakat tidak sekadar mengikuti arus.
“Literasi bisa menjawab kenapa fenomena itu terjadi. Itu lebih penting supaya kita tidak menjadi sekadar pengikut, namun aktor,” ucapnya.
Hadir Merawat Ekosistem Literasi
Kesadaran akan pentingnya merawat literasi inilah yang melatarbelakangi digelarnya Jakarta Literaria 2025 oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta.
Program & Creative Director Jakarta Literaria 2025 Arie Wahyudi Prasetya mengatakan, acara ini merupakan upaya konkret dari Pemprov DKI Jakarta.
“Jakarta Literaria adalah upaya konkret Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memperkuat ekosistem dunia penerbit dan literasi sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif,” kata Arie.
Ia menegaskan Jakarta Literaria tidak hanya berbicara soal buku, tapi juga menghubungkan dengan ekonomi kreatif.
“Festival ini tidak hanya berbicara soal buku, tetapi juga menghubungkan literasi dengan penerbitan, desain, hingga seni pertunjukan,” ujarnya.
Ruang Inklusif bagi Pelaku Literasi dan Kreatif
Arie menjelaskan Jakarta Literaria dirancang sebagai ruang pertemuan yang inklusif bagi berbagai elemen.
“Kami ingin Jakarta Literaria menjadi ruang pertemuan yang inklusif–tempat penulis, penerbit, illustrator, komunitas, pelajar, dan para pelaku kreatif bisa saling berkolaborasi, berinovasi, dan melahirkan karya-karya baru,” tuturnya.
Menurutnya, festival ini menekankan bahwa literasi dapat dipahami dalam arti luas, tak hanya sekedar aktivitas membaca.
“Literasi dipahami tidak hanya sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai proses berpikir, berdiskusi, berkarya, dan berpartisipasi aktif dalam ruang publik,” katanya.
Ada Bazaar Buku
Meski menghadirkan bazaar buku, Jakarta Literaria tidak menjadikan penjualan sebagai tujuan utama.
Arie menegaskan fokus acara adalah peningkatan praktik literasi masyarakat.
“Acara ini tidak berfokus pada target penjualan buku, melainkan pada pengaplikasian program-program yang secara langsung dapat meningkatkan praktik literasi, khususnya di Kota Jakarta,” ujar Arie.
Melalui berbagai format acara, literasi diharapkan hadir lebih dekat dengan keseharian warga.
“Program dirancang agar literasi hadir lebih dekat dengan keseharian masyarakat kota. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas akses, menumbuhkan minat, serta membangun ekosistem literasi yang relevan, inklusif, dan berkelanjutan di Jakarta,” ucapnya.












